Tag Archives: Manchester United

Alexis Sanchez Bisa Bantu Lukaku Cetak Banyak Gol

Alexis Sanchez

Penyerang Manchester United, Romelu Lukaku, masih belum rajin membobol gawang lawan. Kehadiran Alexis Sanchez dinilai akan membantu Lukaku kembali produktif lagi seperti dulu.

Lukaku memang sudah mencetak 12 gol untuk The Red Devils di ajang Liga Inggris musim ini. Dengan nilai transfernya yang ada di angka 75 juta poundsterling di bursa transfer musim panas lalu, jelas jumlah itu masih kurang.

Lukaku beberapa kali mengalami momen puasa gol, terutama saat The Red Devils berhadapan dengan tim enam besar. Di musim ini, dia baru satu kali absen memperkuat MU di Liga Inggris.

Untuk menambah amunisi di sektor penyerangan, MU mendatangkan Alexis Sanchez dari Arsenal. Penyerang tim nasional Chile ini ditukar dengan Henrikh Mkhitaryan.

Sanchez sudah membuktikan diri tampil oke saat bermain untuk Manchester United. Dalam pertandingan MU menghadapi Huddersfield Town menjadi buktinya. The Red Devils menang 2 gol tanpa balas, Sanchez membukukan satu gol.

Mantan penyerang MU, Wayne Rooney, menilai jika Sanchez memang sempurna untuk MU. Pemain yang kini membela Everton itu mengungkapkan alasannya.

“Menurut saya, Alexis Sanchez merupakan yang sempurna untuk Manchester United. Dia adalah pemain yang agresif, dia mempunyai gairahm keinginan. Anda bisa melihat jika Alexis Sanchez adalah seorang pemenang,” kata Wayne Rooney di Sky Sports.

“Jadi, saya pikir itu adalah apa yang tidak dipunyai oleh Manchester United, pemain di sekitar Lukaku yang juga bisa membantu Romero di depan, memberinya sedikit kebebasan, mencetak gol lebih banyak.”

“Saya percaya Alexis Sanchez bisa melakukan itu dan semua merupakan pemain yang mereka inginkan, nyaris seperti Carloz Tevez ketika dia bermain untuk Manchester United,” demikian tutup Wayne Rooney.

Giggs Heran Mkhitaryan Gagal di MU

Henrikh Mkhitaryan

Ryan Giggs termasuk salah satu pihak yang senang dengan kedatangan Henrikh Mkhitaryan ke Manchester United di awal musim 2016/2017 silam. Maka dari itu, Giggs heran kenapa Mkhitaryan tak sukses.

Mkhitaryan direkrut oleh MU pada musim panas 2016 dari Borussia Dortmund. Kedatangannya saat itu disambut antusias oleh hampir semua pendukung MU, karena dinilai punya kualitas bikin gol dan mengkreasikannya.

Selama memperkuat Borussia Dortmund, Mkhitaryan tampil cukup oke dengan mencetak 41 gol dan 49 dalam 140 penampilan. Akan tetapi performa itu tidak bisa dia lanjutkan selama berseragam The Red Devils.

Pada musim pertamanya di 2016/2017 lalu, bintang tim nasional Armenia ini hanya mencetak empat gol dan satu assist di 24 penampilan di Premier League. Secara keseluruhan, pemain 29 tahun ini punya 11 gol dan lima assist dari 40 penampilan semua ajang.

Performanya di musim lalu cukup tertolong dengan keberhasilan MU memenangkan Liga Europa dan Piala Liga Inggris. Mkhitaryan sendiri berhasil unjuk gigi di ajang Liga Europa, dengan mencetak enam gol.

Musim ini, performa Mkhitaryan dianggap menurun. Baru dua gol dan enam assist yang bisa dia buat dari 21 penampilan seluruh ajang. Kesempatan bermainnya pun perlahan berkurang, hingga akhirnya dilepas ke Arsenal dalam kesepakatan tukar guling dengan Alexis Sanchez.

Kegagalan Mkhitaryan di MU diakui Ryan Giggs cukup mengejutkan. Mantan pemain dan asisten pelatih The Red Devils ini sempat yakin benar gaya permainan Mkhitaryan akan nyetel untuk MU.

“Saya dulu termasuk salah satu orang yang senang dengan kedatangan Henrikh Mkhitaryan. Awalnya saya menilai jika dia akan cocok bersama United, bisa mencetak gol dan mengkreasi gol. Saya tak tahu kenapa dia bisa gagal, Mungkin karena cedera-cedera atau mungkin dimainkan di luar posisinya,” kata Ryan Giggs seperti yang dilansir dari Sports.

Alexis Sanchez Gabung MU Bukan karena Uang

Alexis Sanchez

Mantan pemain Arsenal, Robert Pires menepis anggapan Alexis Sanchez merupakan orang yang mata duitan. Hal itu ditegaskan Pires dengan mengutip kata-kata Sanchez ketika dulu pertama kali merapat ke Arsenal.

Sanchez saat ini di ambang kepindahan dari Arsenal ke Manchester United. Kabarnya pemain internasional Chile itu akan memperoleh 500 ribu poundsterling per pekan di MU, yang membuatnya jadi pemain yang mendapatkan bayaran tertinggi di Inggris.

Hal itu pada prosesnya turut memunculkan anggapan bahwa Sanchez adalah orang yang “mata duitan”. Salah satu penilaian itu diungkapkan oleh Martin Keown, yang pernah memperkuat The Gunners pada periode 1993–2004.

Akan tetapi, Pires tidak sependapat. Pria yang sempat memperkuat Arsenal pada kurun waktu 2000–2006 itu menyebut Sanchez punya alasan kuat untuk angkat kaki dari Arsenal, sebagaimana yang pernah dia katakan ketika pertama kali merumput di Emirates Stadium pada musim panas 2014.

“Alesix mencapai level dimana kemampuannya bisa dinikmati oleh orang banyak. Orang-orang di Inggris senang melihat pemain yang gigih. Itu alasan kenapa banyak orang yang menyenanginya,” kata Robert Pires seperti dikutip Mirror.

“Pertama dia datang ke Arsenal, dia bilang begini kepada saya, ‘Di sini saya ingin meraih gelar-gelar juara’. Dan saya senang dengan sikap seperti itu. Nanti orang-orang akan memahami seberapa pentingnya dia dulu untuk Arsenal,” tutur Robert Pires.

Bersama Arsenal, Sanchez berhasil memenangkan satu gelar Community Shield (2014) dan dua Piala FA (2014/2015 dan 2016/2017). Kegagalan finis empat besar di Premier League musim lalu membuat Arsenal kini absen di Liga Champions, pertama kalinya sejak 1997–1998.

Sementara itu MU musim lalu berhasil memenangkan Community Shield, Piala Liga Inggris, dan Liga Europa. Keberhasilan di ajang yang disebut terakhir itu turut mengantar MU tampil di Liga Champions musim ini.

De Gea Kejar Gelar Golden Glove Musim Ini

David de gea

Kiper andalan Manchester United, David De Gea berambisis memenangkan salah satu gelar bergengsi di Premier League. De Gea ingin memenangkan gelar kiper terbaik (Golden Glove).

Sejak direkrut oleh MU pada 2011 dari Atletico Madrid untuk menjadi Edwin van der Sar, De Gea sama sekali belum pernah meraih gelar Golden Glove. De Gea merasa sangat yakin bisa memenangkan penghargaan tersebut musim ini.

De Gea punya peluang besar meraih gelar Golden Glove musim ini. Kiper tim nasional Spanyol tersebut sudah mencatatkan 13 clean sheet dan 68 penyelamatan dari 23 penampilan di ajang Premier League.

“Tentu saja, saya ingin memenangkan penghargaan itu (Golden Glove). Tidak hanya untuk tahun ini, namun saya ingin memenangkannya setiap tahun,” ujar David De Gea seperti yang dilansir dari situs resmi Manchester United.

“Saya merasa jika penghargaan ini bisa menjadi ukuran seberapa baik tim kami bertahan. Saya merasa kami sudah bertahan dengan baik sebagai tim musim ini,” kata David De Gea melanjutkan.

Jika berhasil meraih gelar Golden Glove, De Gea akan mempersembahkannya untuk para pemain bertahan MU. Sepanjang musim ini, para bek The Red Devils telah mencatatkan 599 clearance, 270 intersep, dan 69 intersep.

“Ini akan menjadi trofi bagi untuk saya dan untuk seluruh pemain dalam tim, terutama untuk pemain bertahan yang sudah melindungi gawang saya,” demikian tutup David De Gea.

Jika berhasil, David De Gea akan menjadi kiper kedua Manchester United yang berhasil meraih gelar Golden Glove. Sebelumnya, Edwin van Der Sar berhasil meraihnya pada musim 2008/2009.

Berikut jumlah clean sheet yang dicatatkan kiper-kiper Liga Inggris:

  • 13 – David De Gea (Manchester United)
  • 12 – Thibaut Courtois (Chelsea)
  • 10 – Ederson (Manchester City)
  • 9 – Petr Cech (Arsenal), Hugo Lloris (Tottenham), Nick Pope (Burnley)

Setelah Saling Hina, Mourinho Ingin Berdamai Dengan Conte

Jose Mourinho

Manajer Manchester United, Jose Mourinho mengakui jika kata-katanya sudah menyinggung perasaan manajer Chelsea ,Antonio Conte. Mourinho ingin perang kata selesai setelah saling lempar hinaan.

Mourinho sempat membuat Conte naik pitam setelah menyindir manajer Chelsea itu dan Juergen Klopp selaku manajer Liverpool sebagai seorang badut, karena kedua manajer kerap berapi-api di pinggir lapangan, khususnya setelah tim mereka mencetak gol.

Memperoleh hinaan seperti itu, Conte pun tidak tinggal diam. Mantan manajer Juventus dan tim nasional Italia tersebut mengatakan jika Mourinho sudah pikun karena dulu juga pernah bertingkah demikian.

Mourinho pun membalas Conte dengan komentar yang lebih pedas. Manajer berkebangsaan Portugal tersebut menyindir Conte yang sempat dihukum empat bulan karena kasus pengaturan pertandingan. Dalam kasus itu sendiri, Conte pada prosesnya dinyatakan tak bersalah sama sekali.

Tak terima dengan komentar Mourinho, Conte membalasnya dengan mengecap mantan manajer Real Madrid dan Chelsea itu sebagai manusia kerdil dan penuh kepalsuan. Conte pada akhirnya menegaskan jika hinaan Mourinho akan menjadi urusan pribadi yang tidak akan pernah dia lupakan.

Dan sekarang, Jose Mourinho berusaha untuk meredakan perselisihan di antara dirinya dengan Antonio Conte. Mourinho ingin mengakhiri ketegaangan setelah keduanya melontarkan hinaan.

“Saya pikir ketika seseorang menghina orang lain, Anda harus siap menerima adanya balasan, atau Anda bisa memperkirakan adanya hinaan. Saya dia dia saling menghina, dan menurut saya hinaan itu sudah cukup untuk mengakhiri cerita,” ujar Jose Mourinho seperti yang dilansir dari Sky Sports.

Ingin berdamai dengan Jose Mourinho, Conte?

Semasa Di Juventus, Ibrahimovic Menendang Saja Tidak Bisa

Zlatan Ibrahimovic

Sebelum sehebat seperti sekarang ini, Zlatan Ibrahimovic sempat menjalani masa-masa yang kurang menyenangkan awal kariernya. Salah satunya ketika masih merumput di Juventus. Seperti apa?

Memang usia Ibrahimovic saat ini sudah menginjak 36 tahun dan sudah tidak benar-benar fit setelah cedera ligamen lutut, tapi nama besar pemain Swedia itu masih membuat lawan ciut nyalinya. Oleh karenanya, Manchester United memperpanjang kontraknya.

Musim lalu, Ibrahimovic yang mengakhiri musim lebih cepat, menyabet status sebagai topskorer Manchester United dengan 28 gol di seluruh kompetisi. Sebelum pindah ke MU, Ibra merupakan raja gol untuk Paris Saint-Germain dan juga besar namanya di Inter Milan, Barcelona, dan AC Milan.

Tapi sebelum mencapai kariernya seperti sekarang, Zlatan Ibrahimovic juga harus bersusah payah dulu membangun dari awal seperti saat dia bermain untuk Malmo, Ajax Amsterdam, dan bahkan ketika pindah ke Juventus di tahun 2004.

Saat itu Zlatan Ibrahimovic memang dikenal sebagai salah satu striker muda potensial yang dimiliki oleh Ajax Amsterdam. Tapi bermain di Juventus dan Serie A adalah sesuatu yang berbeda. Fakta tersebut diungkapkan oleh mantan pelatihnya di Juventus, Fabio Capello. Menurut Capello, Ibrahimovic punya bakat besar saat itu tapi belum terasah dengan baik.

“Saat Zlatan Ibrahimovic pertama kali di Juventus, menendang saja dia tidak bisa. Saat itu dia cuma bisa memecahkan kaca gym! Kemudian Zlatan mulai berlatih menendang setiap harinya dan seperti yang semua tahu, tentunya dia berkembang pesat” tutur Fabio Capello kepada Sky.

Selama dua musim merumput bersama Il Bianconeri, Zlatan Ibrahimovic hanya mampu mencetak 26 gol dari 92 penampilan sebelum akhirnya direkrut oleh Inter Milan di bursa musim panas 2006.

Ibrahimovic: Guardiola Pengecut

Zlatan Ibrahimovic

Penyerang Manchester United, Zlatan Ibrahimovic, kembali menyerang Josep Guardiola. Ibrahimovic mengatakan jika manajer Manchester City tersebut bukan sosok pria yang dewasa.

Zlatan Ibrahimovic dan Josep Guardiola pernah saling bekerja sama di Barcelona pada musim 2009/2010 dengan berhasil memenangkan beberapa gelar seperti La Liga, Piala Super Eropa, Piala Super Spanyol, serta Piala Dunia Antarklub.

Tapi hubungan kedua orang itu tidak cukup baik. Ibrahimovic kerap ditepikan Guardiola walaupun berhasil mengemas 21 gol di musim tersebut, yang pada akhirnya striker berkebangsaan Swedia itu hengkang ke AC Milan di musim berikutnya.

Ibrahimovic sempat menyebut Guardiola sebagai sosok pelatih pengecut karena selalu menghindar ketika bertemu dirinya di tempat latihan Barca saat itu. Kini, Ibrahimovic dan Guardiola menjadi rival di kota Manchester. Keduanya saling bertemu dalam laga Derby Manchester di Old Trafford yang berbuntut ricuh setelah The Citizens menang 2-1.

Beberapa waktu lalu Zlatan Ibrahimovic kembali menyerang Guardiola dalam sebuah wawancara di Sky Sport Italia. Striker berusia 36 tahun tersebut menyebut manajer plontos tersebut bukanlah sosok pria yang dewasa.

“Saya mencetak banyak gol dalam enam bulan pertama, kami juga memenangkan Piala Super Eropa dan Piala Super Spanyol. Enam bulan pertama begitu sempurna. Tapi setelah itu, kami berganti sistem dan taktik dan itu cukup merugikan saya, jadi klub berkata kepada saya agar berdiskusi dengan Pep,” kata Zlatan Ibrahimovic.

“Saya bilang kepada Pep jika dia sudah mengorbankan saya untuk Lionel Messi, ia berkata telah memahami keinginan saya. Tapi setelah itu, dia masih mencadangkan saya, itu kembali terjadi dalam laga berikutnya dan berikutnya lagi.”

“Saya pikir dia sudah memecahkan masalah dengan sangat baik. Namun, setelah itu dia hanya diam dan bahkan tidak berani memandang saya. Saya berjalan masuk ke ruang ganti dan ia pergi keluar. Saya hendak menemuinya, tapi dia selalu menghindar seperti pengecut.”

Lukaku Masih Seret Gol Di Hadapan Tim-tim Besar

Romero Lukaku

Penyerang andalan Manchester United, Romelu Lukaku punya statistik yang cukup buruk ketika berhadapan dengan tim papan atas musim ini. Lukaku belum mencetak satu gol pun, bahkan assistpun tidak.

Lukaku direkrut MU dari Everton seharga 75 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,3 triliun pada bursa transfer musim panas lalu. Sejauh ini, penyerang tim nasional Belgia ini sudah mencetak delapan gol di Liga Inggris.

Sempat garang di pekan-pekan awal, dengan selalu mencetak gol dalam tujuh pertandingan perdana, perlahan tapi pasti performanya merosot. Yang paling mencolok adalah ketika MU berhadapan dengan tim-tim papan atas.

Tercatat, Lukaku belum mencetak gol atau sekadar assist saat MU bertanding melawan sesama tim enam besar. Ia mandul ketika harus berhadapan dengan tim-tim besar seperti Manchester City, Chelsea, Liverpool, Arsenal, dan Tottenham Hotspur.

Pertama ketika MU bertanding melawan Liverpool (14 Oktober 2017), Lukaku gagal mencetak gol dan assist di laga yang berakhir 0 – 0. Penampilannya itu kemudian berulang saat MU menang tipis 1 – 0 atas Tottenham Hotspur (28 Oktober 2017).

Kemudian saat MU dikalahkan Chelsea 0-1 (5 November 2017), Lukaku kembali gagal mencetak gol maupun assist. Bahkan saat MU menang 3-1 atas Arsenal (3 Desember 2017), striker berusia 24 tahun itu lagi-lagi tak berperan langsung dalam proses semua gol tim The Red Devils.

Dan yang paling baru, Lukaku gagal mencetak gol atau assist saat MU dikalahkan City 1 – 2 di Old Trafford, Minggu (10 Desember 2017). Bahkan nasib Lukaku jauh lebih buruk, sebab dua gol City tercipta berkat kesalahannya mengantisipasi bola mati.

Setelah pertandingan berakhir, Lukaku pun mendapat banyak cemoohan di media sosial. Ia pun dibully dengan beragam meme sindiran di media sosial Twitter.

MU Harus Bermain Sesempurna Mungkin Jika Ingin Kalahkan City

Derby Manchester

Manchester United diharapkan bisa memberi kekalahan untuk Manchester City di derby akhir pekan ini. Tapi untuk bisa melakukan itu, The Red Devils harus bisa menampilkan permainan nyaris sempurna.

Manchester United akan menghadapi Manchester City di Old Trafford, Minggu (10 Desember 2017) malam WIB di laga pekan ke-16 Premier League. Derby Manchester ini lebih dari sekedar adu gengsi antara konta Manchester, karena diyakini akan turut berpengaruh dengan jalannya perburuan gelar.

Manchester City masih nyaman di puncak klasemen sementara Premier League dengan nyaman setelah tak terkalahkan di 15 pertandingan berturut, memetik 14 kemenangan dalam lajunya itu. Mengoleksi nilai 43, The Citizens sudah delapan poin di depan MU yang jadi pesaing terdekat.

The Red Devils diharapkan bisa menjegal laju City agar persaingan Premier League musim ini kembali hidup. Keberhasilan membungkam Arsenal 3-1 pekan lalu disebut jadi bekal positif.

Mantan gelandang Liverpool dan Manchester City, Dietmar Hamann yakin jika MU adalah tim yang tepat untuk menghentikan laju anak-anak asuhan Josep Guardiola. Namun syaratnya adalah: Romero Lukaku dan kawan-kawannya harus bermain sesempurna mungkin dan tampil dengan amat efisien.

“Anda harus bertahan dengan baik, Anda harus bisa memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan tidak boleh memberikan mereka peluang-peluang mudah. Saya rasa Anda harus meminimalisasi kesalahan-kesalahan,” ungkap Dietmar Hamann seperti yang dilansir dari Sky Sports.

“Kalau ada satu tim pada saat ini yang bisa memberi perlawana kepada City, saya akan melihat ke Manchester United. Karena di pertandingan besar macam ini, mereka biasanya amat tangguh dan sulit dibongkar. Mereka mendapatkan hasil bagus di Arsenal, saya percaya mereka bisa melanjutkannya.”

Absennya Paul Pogba juga disebut-sebut sebagai kerugian besar untuk The Red Devils. Tapi adanya David de Gea di bawah mistar setidaknya memberikan rasa aman ekstra untuk United.

Kemenangan Yang Jadi Modal Penting MU Untuk Hadapi Laga Derby

Manchester United

Manchester United berhasil menang atas CSKA Moskow dengan skor 2 – 1 dan memastikan mereka lolos ke fase knockout. Kemenangan tersebut merupakan modal berharga MU dalam menatap laga Derby Manchester akhir pekan ini.

MU menjamu CSKA Moskow di Old Trafford, Rabu (6 Desember 2017) dinihari WIB, dengan hanya butuh meraih satu angka. Tim asuhan Jose Mourinho ini langsung tampil menekan sejak menit pertama pertandingan. Mereka juga unggul dalam penguasaan bola. The Red Devils sempat dikejutkan oleh CSKA yang unggul lebih dulu melalui gol Vitinho pada menit ke-45.

Memasuki babak kedua, Manchester United meningkatkan intensitas penyerangan membalikkan kedudukan. Romelu Lukaku menciptakan gol balasan pada menit ke-64 sampai akhirnya Marcus Rashford membalikkan keadaan pada menit-66 dan memastikan tim tuan rumah pulang dengan membawa pulang tiga poin.

Berkat tiga poin tambahan itu, MU lolos sebagai juara Grup A dengan perolehan 15 poin disusul oleh FC Basel yang finis di bawahnya. Hasil tersebut membuat MU lebih fokus untuk menghadapi Manchester City di akhir pekan nanti.

“Kami perlu kemenangan ini, kami perlu tamabah satu poin untuk lolos, tapi kami selalu ingin menang. Kami sangat gembira, kami menghadapi pertandingan derby Manchester dengan momentum bagus,” ungkap Juan Mata kepada BT Sport.

“Ini merupakan kemenangan yang bagus dan bisa mendongkrak kepercayaan diri kami. Hari Minggu adalah sebuah pertandingan penting, kami sadar seberapa besar pentingnya ini. Besok kami istirahat kemudian pada hari Kamis kami akan memikirkan soal pertandingannya dan mudah-mudahan kami bisa memperoleh tiga poin.”

Di fase knockout, MU yang berstatus sebagai juara grup justru berpotensi berjumpa tim-tim top Eropa seperti Bayern Munich, Juventus, atau bahkan sang juara bertahan Real Madrid. Pengundian baru akan dilakukan pada 11 Desember 2017 mendatang di markas UEFA di Swiss.