Pemerintah Australia meminta pada pendukung tim nasional untuk berpikir dua kali sebelum memutuskan bertolak ke Rusia demi mendukung perjuangan tim Cahill dan kawan-kawan selama bertarung di Piala Dunia 2018 dari 14 Juni hingga 15 Juli mendatang.

Hal itu dilakukan menyusul keretakan hubungan diplomatik di antara Australia dan Rusia akibat dampak dari usaha pembunuhan mantan agen mata-mata Sergei Skripal di Inggris, bulan lalu.

Berstatus sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018, Rusia terus-terusan membantah tudingan jika mereka adalah biang dari aksi percobaan pembunuhan kepada Skripal. Akan tetapi setidaknya ada 20 negara mengusir diplomat Rusia karena tuduhan kegiatan mata-mata dari negara mereka masing-masing, begitu juga dengan dua diplomat Rusia di Australia.

Rusia lantas membalas itu dengan mengusir 59 diplomat mancanegara di wilayah tuan rumah Piala Dunia 2018 itu. Dua diplomat Australia pun ikut diusir.

“Dikarenakan adanya ketegangan politik yang meningkat, harusnya anda lebih waspada pada potensi sentimen anti-Barat atau pelecehan,” kata pemerintah Australia.

Deputi Perdana Menteri Australia bernama Michael McCormack pun menasehati fans timnas mereka supaya tidak jadi pergi ke Rusia.

Pada sesi wawancara bersama stasiun televisi Rusia, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuding apabila pihak Barat berupaya menghentikan negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018.

Dilaporkan oleh kantor berita Sputnik International, Senin, 2 April, arus suporter sepakbola internasional bakal tetap tertuju ke Rusia. Minimal 300 ribu suporter akan datang mengunjungi wilayah Rostov, seperti yang telah dibeberkan oleh deputi gubernur wilayah tersebut, Yuri Molodchenko, pada acara pariwisata di Kota Rostov, Jumat lalu.

Molodchenko pun menyatakan bahwa perwakilan Negara Korea Selatan, Swiss, dan Arab Saudi telah memastikan hadir dalam seremonial Piala Dunia 2018 di wilayah Rostov.