Ketika tim nasional Spanyol meninggalkan lapangan setelah kalah 0 – 2 dari kesebelasan Italia pada 16 besar Piala Eropa dua tahun silam terdapat desakan untuk melakukan perombakan squad demi awal baru.

Untuk kurun waktu yang lama, Vicente del Bosque yakin dengan para pemain yang dia bawa memenangkan Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Terdapat nuansa bahwa ia memilih anggota tim berdasarkan reputasi dan loyalitas, ketimbang kebugaran dan performa mereka.

Mengganti kiper Iker Casillas dengan David de Gea, disebut terlambat. Cesc Fabregas yang sudah tidak lagi muda masih menjadi sosok kunci, tidak ada jalan yang jelas untuk para pemain dari berbagai usia dan Isco bahkan tidak masuk dalam daftar.

Memajukan waktu sampai menjelang Piala Dunia tahun ini dan berbagai hal sudah berubah. Pelatih baru Julen Lopetegui, yang mengambil alih tim setelah Piala Eropa 2016, melakukan perombakan di sejumlah sektor.

Julen Lopetegui membentuk tim utama dengan pemain-pemain yang sebelumnya pernah menjadi anak asuhnya, timnya mempermalukan Argentina dengan skor 6-1 dalam laga ujicoba yang dimainkan beberapa hari silam, mereka kembali menjadi salah satu tim yang diperhitungkan untuk menjuarai Piala Dunia.

Banyak pihak yakin dengan kemampuan, yang telah mengambil kebijakan untuk memilih pemain berdasarkan performa, bukan hanya sekadar nama. Yang paling diingat adalah menjadikan gelandang Real Madrid Isco sebagai pusat dari segalanya.

Pemain yang mencetak hattrick ke gawang Argentina itu sekarang merupakan pemain tersubur peringkat kedua Spanyol di bawah kepemimpinan Julen Lopetegui dan akan menjadi sosok penting bagi harapan-harapan timnas Spanyol di Piala Dunia 2018 Rusia.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan kepedihan yang diderita Isco di klubnya di bawah asuhan pelatih Zinedine Zidane. Pemain kunci bagi Real selama semenit, kemudian ditepikan pada kesempatan selanjutnya, ia harus menjadi salah satu dari beberapa pemain yang berharap jeda internasional akan diadakan sepanjang waktu.