Griezmann Batal Gabung MU?

Ramainya rumor soal masa depan Antoine Griezmann membuat petinggi Atletico Madrid angkat bicara. Presiden Atletico Madrid, Enrique Cerezo berani menjamin bahwa Griezmann tidak akan pergi kemana-mana, ataupun bergabung dengan Manchester United.

Padahal, beberapa waktu lalu dikabarkan jika manajemen MU sudah siap membayar klausul buyout Griezmann dari Atletico Madrid seharga 86 juta poundsterling atau yang setara dengan Rp 1,4 triliun.

Manchester United memang perlu sosok penyerang seperti Antoine Griezmann untuk jadi pengganti Zlatan Ibrahimovic dan Wayne Rooney. Keduanya kerap dikabarkan akan hengkang dari Old Trafford Stadium pada bursa transfer musim panas mendatang.

Zlatan Ibrahimovic kabarnya tidak mau memperpanjang kontraknya bersama The Red Devils setelah mengalami cedera ACL di laga kontra Anderlecht. Sementara Rooney yang sudah tidak menjadi pilihan utama Jose Mourinho punya kemungkinan hengkang ke Liga Tiongkok atau Amerika Serikat.

“Antoine Griezmann? Dia akan bertahan, tapi tidak di Vicente Calderon. Dia bakal bersama kami di Wanda Metropilitano mulai musim depan,” ucap Cerezo seperti yang dilansir dari Football Espana.

Sementara itu, Griezmann sendiri juga sudah menegaskan bahwa dia tidak akan hengkang ke Manchester United. “Rumor itu sangat tidak masuk akal. Saya masih pemain Atletico Madrid,” tulis Griezmann dalam akun media sosial Twitter miliknya.

Griezmann memang salah satu sosok kunci Atletico Madrid. Striker Tim nasional Prancis itu merupakan mesin gol Atletico Madrid di La Liga sepanjang musim ini. Mantan pemain Real Sociedad ini mencetak 16 gol. Griezmann merupakan striker kidal, 11 gol yang dia cetak menggunakan kaki kiri.

Antoine Griezmann juga menjadi pemain yang paling banyak menciptakan peluang untuk tim besutan Diego Simeone di sepanjang musim 2016/2017. Griezmann tercatat menciptakan 57 peluang, delapan peluang di antaranya berhasil menjadi gol.

Tidak hanya tajam di depan gawang, Griezmann juga sangat piawai dalam menggiring bola. Dia berhasil mendribel bola sebanyak 24 kali dari 52 percobaan dengan tingkat keberhasilan sebesar 46 persen.

Liverpool Punya Daya Tarik Cukup Besar Di Bursa Transfer Kali Ini

 

Liverpool punya potensi lebih besar dalam persaingan bursa transfer nanti. Hal itu dikarenakan keberhasilan mereka lolos ke turnamen Liga Champions 2017/2018 serta kehadiran sosok Juergen Klopp sebagai pelatih The Reds.

Liverpool mampu memastikan diri finis 4 besar di Premier League 2016/2017. Alhasil, mereka juga dipastikan akan tampil di kompetisi Liga Champions 2017/2018 walaupun harus menjalani babak kualifikasi lebih dulu.

Turnamen tingkat Eropa jelas menjadi hal yang krusial buat tim Merseyside, terutama untuk meningkatkan popularitas dalam bursa transfer. Sebab, pemain-pemain top tentu akan mempertimbangkan keikutsertaan klub dalam turnamen tersebut sebagai nilai tambahan saat memberi penawaran.

Tak hanya itu, eks pemain tengah Liverpool Steven Gerrard, merasa kalau sosok Juergen Klopp sebagai pelatih Liverpool pun berandil penting untuk nilai tambahan di bursa transfer. Gerrard mengungkapkan kalau Klopp memiliki rencana serta proyek yang cemerlang guna menggoda sejumlah pemain top.

“Jika saya adalah sosok pemain top di tingkat Eropa lalu Juergen Klopp menghubungiku serta saya memiliki pelaung untuk tampil di klub ini, yang mana tengah melangkah maju di tiap departemennya serta memiliki pelatih tingkat dunia, saya takkan berpikir lama untuk menerima kans itu,” ujar Gerrard seperti yang dilansir dari salah satu media.

“Saya ingin tampil dengannya dan saya berusia 37 tahun minggu depan! Untuk saya, ini adalah proyek yang amat fantastis. Tak hanya karena kami berhasil maju ke Liga Champions, namun semua proyeknya.”

“Tiga, empat, lima, hingga enam tahun mendatang, apapun hasilnya, bakal jadi periode-periode yang amat fantastis serta pemain-pemain akan berhasrat untuk berperan dengan apa yang tengah Juergen lakukan,” katanya melanjutkan.

Di musim kemarin, Klopp yang baru membesut Liverpool pada pertengahan musim, mampu mengantarkan timnya ke 2 partai final, tepatnya dalam Piala Liga Inggris serta Liga Europa. Namun The Reds gagal menjuarai dua turnamen itu.

Sedangkan di musim ini, Liverpool awalnya tampil meyakinkan sampai di pertengahan musim, namun setelahnya justru merosot. Alhasil, Klopp dikabarkan akan berbelanja besar di bursa transfer kali ini guna membenahi sejumlah lini skuatnya.

Wenger Ternyata Tak Pernah Simpan Medali Juara

Pelatih Arsenal, Arsene Wenger berpeluang menjadi manajer tersukses di Piala FA jika tim asuhannya menjadi juara musim ini. Akan tetapi, kalaupun memperoleh medali juara, Wenger tidak akan menyimpannya.

Arsenal akan berhadapan dengan Chelsea dalam laga final Piala FA di Wembley, Sabtu (27 Mei 2017) malam WIB. Gelar juara akan menjadi penyelamat untuk musim The Gunners, yang untuk pertama kalinya di era Wenger finis di luar zona empat besar Premier League.

Memenangi trofi ini juga akan membuat Arsenal mencatatkan rekor sebagai tim yang paling sering memenangkan Piala FA. Sejauh ini mereka sudah 12 kali menjadi juara dalam turnamen tertua di Inggris ini, sama seperti Manchester United.

Sementara untuk Wenger, jika berhasil mengantarkan Arsenal mengalahkan Chelsea berarti dirinya akan menyabet status sebagai manajer yang paling banyak memenangkan Piala FA. Pria Prancis tersebut sudah enam kali meraih juara, jumlah yang sama dikumpulkan oleh mantan manajer Aston Villa, George Ramsay.

Namun, Arsene Wenger selama ini ternyata tidak pernah membawa medali juaranya ke rumah. Andaikan dia mendapatkan kembali memperoleh medali, dia akan memberikan medali tersebut kepada orang lain.

“Saya tidak pernah membawa medali saya ke rumah. Anda datang ke rumah saya dan akan terkejut. Di sana tak ada piala, tak ada medali, saya tidak menyimpan trofi apa-apa,” ungkap Arsene Wenger seperti yang dilansir dari Soccerway.

“Saya selalu memberikan medali yang saya dapatkan kepada orang lain. Selalu ada orang di klub yang tidak mendapatkan medali, seorang anggota staf, jadi saya memberikannya kepada dia. Jadi, Anda selalu tak punya medali dan Anda akan selalu menemukan seseorang yang mengambilnya.

“Saya bukanlah orang yang suka melihat ke belakang. Saya selalu melihat ke depan. Di rumah saya, Anda tidak bisa melihat saya sebagai seorang manajer klub sepakbola, terlepas dari kenyataan bahwa ada tayangan pertandingan sepakbola.

“Saya tidak bisa lepas dari sepakbola. Saya sepenuhnya ada di sepakbola. Saya sering menyaksikan pertandingan yang ditayangkan di malam hari, tapi saya tak melihat apa yang sudah kami menangkan, apa yang sudah kami lakukan, dan kekalahan-kekalahan kami,” ungkap Wenger.

Madrid VS Juventus, El Real Takkan Mengubah Gaya Bermainnya

 

Real Madrid masih punya laga krusial lainnya dalam partai final Liga Champions kontra Juventus. Menghadapi lawan yang cukup tangguh, Los Blancos takkan mengubah gaya bermain.

Perduelan yang mempertemukan Madrid vs Juve bakal digelar di Cardiff Stadium, Minggu (4/6/2017) mendatang. Laga ini bisa dibilang akan menjadi pertarungan antaran tim dengan defensif terbaik kontra tim dengan barisan depan terkuat di Liga Champions 2016/2018.

Sejauh ini, Juventus baru pernah kecolongan total 3 gol di Liga Champions musim ini, dan juga menyandang status sebagai satu-satunya klub yang tak terkalahkan. Sedangkan Los Blancos merupakan tim dengan torehan gol superior yakni sebanyak 32 gol.

Alhasil, Zinedine Zidane selaku manajer Real Madrid pun mewaspadai ketangguhan Juve di Liga Champions musim ini. Namun, Madrid bersikeras takkan mengubah cara bermainnya demi meraih titel juara.

“Motivasinya berasal dari kenyataan kalau kami akan melakoni partai final Liga Champions musim ini,” ujar Zidane, yang dilansir dari salah satu media.

“Perduelan ini bakal jadi partai final yang sulit dan kami mesti beursaha keras serta berupaya untuk memperoleh tambahan energi itu agar dapat memperlihatkan penampilan yang oke. Saya kira kami akan siap.”

“Setiap partai final itu tidaklah sama. Ini laga final menghadapi tim yang berbeda, di stadion yang berbeda, serta dengan atmosfer yang berbeda pula. Kami sadar kalau ini bakal menjadi 90 menit, mungkin lebih, untuk berupaya jadi seorang pemenang dan itu adalah apa yang akan kami coba lakukan: mengerahkan semua kemampuan seperti biasanya.”

“Kami tak bakal mengubah permainan kami dan kita nantikan saja apa yang akan terjadi,” katanya mengakhiri.

Mourinho Merasa Bukan Siapa-siapa Di MU

Jose Mourinho dikenal sebagai salah satu manajer terbaik di dunia saat ini dan punya riwayat sukses yang besar bersama klub yang pernag dia tangani. Tapi di Manchester United, Mourinho merasa bukan siapa-siapa.

Mourinho baru saja mengantarkan Manchester United jadi juara di Liga Europa. The Red Devils berhasil menaklukkan Ajax Amsterdam dengan skor 2 – 0 di final yang berlangsung di Friends Arena, Stockholm, Kamis (25 Mei 2017) dinihari WIB kemarin.

Itu adalah trofi ketiganya pada musim perdananya ini bersama Manchester United. Sebelumnya, Mourinho sudah berhasil membawa MU meraih trofi di ajang Community Shield (kontra Leicester City) serta Piala Liga Inggris (kontra Southampton).

Memenangkan tiga piala di musim perdana tentu saja bisa dibilang sebagai pencapaian yang cukup baik. Dan untuk Mourinho pribadi, itu cuma menambah kilap di curriculum vitae miliknya, dengan sejauh ini sudah memenangkan 25 trofi sepanjang karier sebagai manajer klub sepakbola.

Namun, manajer berkebangsaan Portugal itu mengaku berada di MU membuatnya senantiasa merasa kecil, walaupun punya sukses besar. Dia merasa masih harus membuktikan diri lebih jauh di hadapan manajer-manajer legendaris klub ini seperti Sir Matt Busby dan Sir Alex Ferguson.

Busby sukses memenangkan lima gelar liga, dua Piala FA, lima Charity Shield yang kini menjadi Community Shield, serta satu trofi Piala Champions yang kini bernama Liga Champions. Sementara Ferguson tentu saja punya warisan lebih besar untuk MU.

Pria berkebangsaan Skotlandia ini memenangkan di antaranya 13 gelar liga, lima Piala FA, empat Piala Liga Inggris, 10 Community Shield, serta dua trofi Liga Champions. Itu belum termasuk trofi-trofi lain seperti Piala Winners, Piala Super Eropa, Piala Interkontinental, ataupun Piala Dunia Antarklub.

“Kadang-kadang saya terdiam beberapa saat dan melihat kembali ke belakang, saya melakukan banyak hal. Saya punya hal-hal yang tidak dipunya oleh orang lain. Saya pernah sukses di Spanyol, Italia, dan di Inggris,” ungkap Mourinho seperti yang dilansir dari Express.

“Tapi entah kenapa di klub ini, saya merasa bahwa saya belum melakukan apa-apa, terutama karena Anda punya dua legenda dalam hal gelar dan trofi-trofi. Saya merasa bukan siapa-siapa dan saya merasa bahwa saya harus selalu membuktikan diri.”

Sam Allardyce Tinggalkan Crystal Palace Dan Langsung Pensiun

Crystal Palace takkan dilatih lagi oleh Sam Allardyce untuk musim depan. Pasalnya, Big Sam memutuskan untuk tinggalkan kursi pelatih Palace dan langsung pensiun.

Allardyce memang baru melatih Palace sedari bulan Desember 2016 lalu guna menggantikan Alan Pardew. Eks pelatih timnas Inggris itu terikat kontrak yang berperiode selama 2 setengah tahun bersama The Eagles.

Bersama Allardyce, Palace bisa terselamatkan dari jurang degradasi. Klub itu menutup musim ini dengan finis di posisi 14 di klasemen Premier League 2016/2017. Tak hanya itu, Palace pun terbilang mengejutkan publik lantaran mampu menaklukkan sejumlah tim deretan atas seperti Arsenal, Chelsea, serta Liverpool.

Walaupun kinerjanya terbilang oke di Palace, sayangnya Sam Allardyce enggan melanjutkan profesinya lagi. Pasalnya, Big Sam memutuskan untuk tinggalkan Palace dan langsung pensiun sebagai pelatih.

“Untuk beberapa alasan, ini merupakan keputusan yang amat rumit, namun untuk hal-hal lainnya ini amat sederhana. Saya akan senantiasa berterima kasih terhadap Crystal Palace serta (petinggi klub) Steve Parish yang telah memperbolehkan saya untuk langsung pergi tanpa penyesalan lantaran telah menyelamatkan klub dari zona degradasi di Premier League,” ungkap Allardyce seperti yang dilansir dari salah satu media.

“Selebihnya, mereka berikan saya kans untuk membenahi nama baik saya usai skandal yang terjadi di timnas Inggris. Saya merasa membutuhkan kans lain sebagai sosok pelatih di Premier League serta menunjukkan kalau saya masih berkualitas untuk menggapi pencapaian yang signifikan. Sama halnya yang saya ungkapkan di akhir minggu kemarin, Palace sudah berikan saya kans untuk melakukan rehabilitasi,” ujarnya.

“Ini merupakan momen yang tepat untuk saya, saya menyadari hal itu di dalam hati saya. Saya tak memiliki keinginan untuk bekerja di tempat lain. Saya hanya mau bisa menikmati segala sesuatu yang tidak dapat betul-betul Anda nikmati lantaran adanya tuntutan di 24 jam sehari serta 7 hari seminggu ketika melatih sebuah klub sepakbola, lebih lagi di Premier League,” ungkap Allardyce.

Selain pernah membesut Crystal Palace serta timnas Inggris, Sam Allardyce pun sempat melatih sejumlah klub seperti Blackpool, Notts County, Bolton Wanderers, Newcastle United, Blackburn Rovers, West Ham United, serta Sunderland.

Bosz Sebal Dolberg Dipanggil The Next Ibrahimovic

Moncernya penampilan Kasper Dolberg bersama Ajax Amsterdam membuat namanya dibandingkan mantan pemain bintang di tim itu seperti Zlatan Ibrahimovic juga Denis Bergkamp. Namun sang pelatih, Peter Bosz kurang setuju dengan anggapan itu.

Dolberg tampil sangat mengesankan bersama Ajax Amsterdam setelah memperoleh kesempatan untuk bermain bersama tim senior di musim 2016/2017. Pemain berusia 19 tahun tersebut tampil cukup mengesankan.

Dolberg sendiri merupakan pemain yang berasal dari Denmark. Sepanjang musim ini, pemain yang lahir di Silkeborg, Denmark itu sudah berhasil mencetak 23 gol dengan rincian 16 di Eredivisie, enam di Liga Europa, serta sekali di kualifikasi Liga Champions.

Penampilan itu yang membuat Dolberg memperoleh julukan The Next Ibrahimovic dan dibandingkan dengan legenda Ajax Amsterdam lainnya, Bergkamp. Dolberg punya kesempatan untuk melawan tim yang sedang dibela oleh Ibrahimovic di final Liga Europa yang pertemukan Ajax vs Manchester United, Kamis (25 Mei 2017).

Namun pelatih Ajax Amsterdam, Bosz, meminta agar tidak ada lagi yang membandingkan antara Kasper Dolberg dengan Ibrahimovic ataupun Bergkamp, yang jelas sudah teruji jempolan sebagai striker haus gol di berbagai liga di benua biru. Apa katanya?

“Saya tidak suka ada yang membandingkan antara pemain satu dengan pemain lainnya, tidak ada Zlatan Ibrahimovic atau Dennis Bergkamp yang lain. Kasper Dolberg berbeda dengan pemain lain, soal performa ataupun kepribadiannya,” tutur Peter Bosz seperti yang dilansir dari Daily Mail.

“Ketika kami mengawali musim ini, Kasper Dolberg masih bermain untuk tim U-19 Ajax dan selama masa pramusim, manajemen tim meminta saya untuk terus mengamati .”

“Jika saya memasukkan dia ke dalam, dia bisa memainkan laga final Liga Europa dalam usia 19 tahun. Kasper Dolberg akan menjadi pemain hebat karena dia punya potensi,” sambung Bosz.

Sementara itu, walaupun bertanding lawan Manchester United, Dolberg tidak bisa bertemu Ibrahimovic saat ini karena Ibrahimovic masih menjalani pemulihan karena cedera lutut. Pencetak 28 gol untuk Manchester United itu merupakan pemain Ajax Amsterdam di era 2001-2004.

Conte Berhasil Buat Pemain Keluarkan Potensi Terbaiknya

Musim pertama Antonio Conte sebagai pelatih Chelsea berjalan dengan sangat sukses. Atas kesuksesannya itu, Conte membawa pulang dua penghargaan yakni gelar LMA Manager of the Year dan Barclays Premier League Manager of Season.

Conte berhasil mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris 2016/2017 usai terseok-seok di musim lalu. Padahal, squad The Blues tidak jauh berbeda dengan tim yang musim lalu finis di peringkat 10 klasemen. Manajer asal Italia itu dinilai bisa mendorong para pemain Chelsea untuk bisa menggali potensi terdalamnya.

Chelsea tidak melakukan belanja besar-besaran dan hanya melakukan beberapa pembelian seperti Michy Batshuayi, David Luiz dan N’Golo Kante di bursa transfer musim panas kemarin. Lalu pemain yang sering dipinjamkan seperti Victor Moses memperoleh kesempatan untuk unjuk kebolehan.

Keputusan Conte itu terbukti tepat hingga mampu mengantarkan tim raksasa London Barat ini menjadi juara dengan sejumlah rekor, salah satunya raihan 93 poin dalam satu musim.

Moses yang merasa kariernya menanjak sejak kedatangan Conte, memberikan komentarnya soal sang Italiano itu, yang disebut sudah sangat dicintai oleh pada pemain Chelsea.

“Kami punya manajer yang hebat dan tidak ragu memberi kesempatan kepada semua pemain. Dia memberi saya kesempatan dan saya tak melihat masa lalu saya. Ini adalah soal kerja keras, saya tak pernah bekerja begitu keras di sepanjang karier saya sebelumnya dan saya hanya ingin terus meningkatkan kemampuan pada posisi saya bermain,” kata Moses seperti yang dilansir dari situs resmi Chelsea.

“Antonio Conte membawa kami untuk naik level, dia mendorong kami untuk bisa sampai ke batas kemampuan kami. Setiap dan semua orang dari kami sangat menghormatinya. Kami sangat mencintai dia sebagai manajer kami.”

“Bahagia rasanya bisa dilatih oleh pelatih yang keyakinan pada semua pemain. Dia memberi kami kepercayaan diri tinggi dan kami semua menikmati sepakbola kami,” imbuhnya.

Antonio Conte dan Chelsea masih punya kesempatan untuk menambah gelar lagi di musim ini. Mereka akan menjalani laga final Piala FA melawan Arsenal. Laga itu akan diselenggarakan di stadion Wembley, Sabtu (27 Mei 2017) malam WIB.

‘Manchester United Memainkan Paul Pogba Di Posisi Yang Kurang Tepat’

 

Gelandang Manchester United, Paul Pogba, dinilai belum mampu memperlihatkan kualitas terbaiknya di musim pertama bersama Manchester United. Pesepakbola dari Prancis itu pun dinilai akan lebih cemerlang di musim selanjutnya.

Berkiprah di Man Utd musim ini, Pogba telah melakoni total 50 pertandingan di semua turnamen. Dengan total penampilannya itu, dia ‘hanya’ menyumbangkan 8 gol serta 6 assist.

Alhasil, tentu saja kontribusi itu dianggap jauh dari ekspektasi mengingat labelnya sebagai pemain termahal dunia yang dibeli Man Utd dari Juventus dengan harga sekitar 89 juta pounds.

Di musim perdananya bersama The Red Devils, Pogba diposisikan sebagai gelandang central oleh Jose Mourinho. Namun, mantan pemain Arsenal yang kini jadi pundit, Thierry Henry, menilai kalau gelandang central bukanlah posisi terbaiknya.

Melihat kualitas yang dimiliki Pogba, Henry juga percaya kalau pesepakbola 24 tahun itu bakal memperlihatkan kontribusi yang lebih oke di musim 2017/2018.

“Senantiasa jadi hal yang rumit buat Paul Pogba,” ujar Henry di salah satu media.

“Mereka sepertinya tak mengoperasikan Pogba di posisi yang semestinya ia bermain –dia bukanlah sosok holding midfielder. Saya kira ia lebih senang untuk bermain lebih tinggi maupun di sayap kiri.”

“Anda akan sedikit kehilangan kemampuannya ketika ia dimainkan di posisi yang lebih dalam. Saat Anda memiliki status pemain terhamal seperti itu, publik terus-terusan membicarakannya. Akan jadi hal positif apabila di musim panas mendatang ada pemain yang direkrut dengan nilai transfer yang lebih besar, kemudian Pogba takkan merasa tertekan lagi oleh publik.”

“Saya kira musim selanjutnya Pogba akan bermain lebih oke. Ada banyak hal yang dapat ia perlihatkan,” lanjutnya menambahkan

Pertandingan Terakhir Liga Inggris 2016/2017 Dibanjiri Gol

 

Liga Inggris 2016/2017 telah berakhir dengan pertandingan tearkhir di Minggu (21/5/2017) malam. Partai pamungkuas Premier League musim ini dituntaskan dengan banyak gol.

Total ada 10 laga di minggu terakhir yang dilakoni secara bersamaan, tepatnya di Minggu (21/5/2017) kemarin malam. Titel juara sendiri sudah diamankan oleh Chelsea di 2 laga sebelumnya usai berhasil menang tipis 1-0 kontra West Bromwich Albion.

Uniknya, terdapat 37 gol di pertandingan terakhir Liga Inggris 2016/2017, yang bisa dibilang memiliki rata-rata 3,7 gol di setiap pertandingan. Perduelan Tottenham Hotspur kontra Hull City jadi pertandingan dengan total gol paling banyak. The Lilywhites menang telak dengan skor akhir 7-1 dalam laga yang berlangsung di KCOM Stadium itu.

Harry Kane tampil on fire dalam perduelan itu dengan membukukan 3 gol alias hat-trick. Dengan begitu, ia bisa memastikan diri sebagai topskorer Premier League dengan torehan 29 gol bersama Spurs di sepanjang musim ini.

Tim-tim lainnya yang berhasil finis 3 besar pun membukukan kemenangan telak di partai terakhir ini. Tim peringkat pertama, Chelsea, menang superior dengan skor akhir 1-5 saat menghadapi Sunderland di pertandingan yang digelar di Stamford Bridge.

Ada pula tim peringkat 3, Manchester City, yang menuntaskan partai terakhirnya di musim ini dengan kemenangan telak 5-0 kontra Watford.

Di sisi lain, ada pula Liverpool yang berhasil finis 4 besar sekaligus mengamakan tiket Liga Champions usai berhasil menang meyakinkan. The Reds mampu meraih kemenangan 3-0 saat berhadapan dengan tim yang telah terdegradasi dari Premier League, Middlesbrough.

Dari keseluruhan, total ada 1.027 gol yang tercipta di 370 laga dalam Liga Inggris 2016/2017, dengan memiliki rata-rata gol sekitar 2,78 di tiap pertandingan.